Namaku Gery, usia 30 tahun, dan saat
ini tinggal di sebuah perumahan sederhana di kawasan Bandung Barat. Rumah di
kompleks perumahanku tentu saja tipe-tipe kecil. Namun dengan penghasilanku
yang lumayan aku bisa membuat rumahku yang mungil menjadi terlihat indah dan
asri. Boleh dibilang rumahku merupakan rumah terindah di kompleks itu.
Aku menempati rumah ini sejak lima
tahun yang lalu, dulunya sendiri saja, namun sejak satu tahun lalu aku menikah
dan kini tinggal berdua dengan Lia, isteriku. Lia adalah seorang wanita yang
cantik dan penuh perhatian, sekilas tidak ada yang kurang darinya. Apalagi dia
juga bekerja sebagai Manajer Marketing di sebuah perusahaan farmasi, jadi
keluarga kami secara keuangan tidak punya masalah.
Aku mempunyai tetangga baru,
sepasang suami isteri dengan satu anak yang masih bayi. Suaminya seorang pelaut
dan isterinya ibu rumah tangga. Pada awalnya aku tidak terlalu peduli dengan
kehadiran tetangga baru itu, walaupun ketika mereka datang memperkenalkan diri
ke rumah aku sedikit terpukau dengan sang isteri yang punya body seksi dan
montok. Pada saat itu aku merasa keterpukauanku hanyalah hal biasa saja.
Namun waktu berkata lain. Ternyata
setelah berinteraksi dengan Linda, begitu nama tetanggaku yang montok itu, aku
mulai merasa ada daya tarik yang muncul dari wanita itu. Ada beberapa kelebihan
yang dimiliki Linda namun tidak dimiliki Lia, isteriku. "read more"
Pertama tentu saja body-nya yang
montok, dengan dada yang menjulang dan pantat yang besar namun padat. Walaupun
Lia juga seksi, namun ukuran buah dadanya cuma 32B. Kalau Linda kutaksir
mungkin antara 38C. Apalagi pantatnya yang bahenol itu membuat pria penasaran
untuk meremasnya.
Kedua, wajah Linda yang sensual.
Kalau urusan cantik, pasti aku pilih Lia, namun ketika aku melihat wajah Linda,
maka aku membayangkan bintang film BF. Mungkin pengaruh dari bibirnya yang agak
tebal dan matanya yang nakal. Setiap kulihat bibir itu berbicara, ingin rasanya
aku merasakan ciuman dan kulumannya yang membara.
Ketiga adalah selera berbusananya,
terutama selera pakaian dalamnya. Pertama kali aku melihat jemuran pakaian di
belakang rumah mereka, aku langsung tertarik pada pakaian dalam Linda yang
dijemur. Model dan warnanya beraneka macam, mulai dari celana dalam warna
hitam, biru, merah, hijau sampai yang transparan. Modelnya mulai dari yang
biasa-biasa saja sampai model G-string. Motifnya dari yang polos sampai yang
bermotif bunga, polkadot, gambar lucu sampai ada yang bergambar bibir. Wah..
Lia tidak suka seperti itu, menurutnya kampungan dan seperti pelacur jalanan.
Padahal sebagai lelaki kadang kita ingin sekali bermain seks dengan perempuan
jalanan.
Tiga hal itulah yang membuat aku
selalu menyempatkan untuk curi-curi pandang pada Linda dan tak lupa melihat
jemuran pakaiannya untuk melihat koleksi pakaian dalamnya yang”jalang” itu.
Suatu hari, sepulang dari kantor,
aku mampir ke Supermarket dekat kompleks sekedar membeli makanan instan karena
isteriku akan pergi selama dua hari ke Bandung. Tak disangka di supermarket itu
aku bertemu Linda dengan menggendong bayinya. Entah kenapa jantungku jadi
berdegup keras, apalagi ketika kulihat pakaian Linda yang body-fit, baik kaos
maupun roknya. Seluruh lekuk kemontokan tubuhnya seakan memanggil birahiku
untuk naik.
“Hai.. Mbak, belanja juga?” sapaku.
“Eh.. Mas Gery, biasa belanja susu”, jawabnya dengan senyum menghiasi wajah sensualnya.
“Memang sudah enggak ASI ya?” tanyaku.
“Wah.. Susunya cuma keluar empat bulan saja, sekarang sudah tidak lagi”.
“Hmm.. Mungkin habis sama Bapaknya kali ya.. Ha-ha-ha..” candaku.
Linda juga tertawa kecil, “Tapi enggak juga, sudah dua bulan bapaknya enggak pulang”.
“Berat enggak sih Mbak, punya suami pelaut, sebab saya yang ditinggal isteri cuma dua hari saja rasanya sudah jenuh”.
“Wah.. Mas baru dua hari ditinggal sudah begitu, apalagi saya. Bayangkan saya cuma ketemu suami dua minggu dalam waktu tiga bulan”.
“Eh.. Mas Gery, biasa belanja susu”, jawabnya dengan senyum menghiasi wajah sensualnya.
“Memang sudah enggak ASI ya?” tanyaku.
“Wah.. Susunya cuma keluar empat bulan saja, sekarang sudah tidak lagi”.
“Hmm.. Mungkin habis sama Bapaknya kali ya.. Ha-ha-ha..” candaku.
Linda juga tertawa kecil, “Tapi enggak juga, sudah dua bulan bapaknya enggak pulang”.
“Berat enggak sih Mbak, punya suami pelaut, sebab saya yang ditinggal isteri cuma dua hari saja rasanya sudah jenuh”.
“Wah.. Mas baru dua hari ditinggal sudah begitu, apalagi saya. Bayangkan saya cuma ketemu suami dua minggu dalam waktu tiga bulan”.
Aku merasa gembira dengan topik
pembicaraan ini, namun sayang pembicaraan terhenti karena bayi Linda menangis.
Ia kemudian sibuk menenangkan bayinya.
“Apalagi setelah punya bayi, tambah
repot Mas”, katanya.
“Kalau begitu biar saya bantu bawa belanjaannya”, aku mengambil keranjang belanja Linda.
“Terima kasih, sudah selesai kok, saya mau bayar terus pulang”.
“Ohh.. Ayo kita sama-sama”, kataku.
“Kalau begitu biar saya bantu bawa belanjaannya”, aku mengambil keranjang belanja Linda.
“Terima kasih, sudah selesai kok, saya mau bayar terus pulang”.
“Ohh.. Ayo kita sama-sama”, kataku.
Aku segera mengambil inisiatif
berjalan lebih dulu ke kasir dan dengan sangat antusias membayar semua
belanjaan Linda.
“Ha.. Sudah bayar? Berapa? Nanti
saya ganti”, kata Linda kaget.
“Ah.. Sedikit kok, enggak apa sekali-kali saya bayarin susu bayinya, siapa tahu dapat susu ibunya, ha-ha-ha..”, aku mulai bercanda yang sedikit menjurus.
“Ihh.. Mas Gery!” jerit Linda malu-malu. Namun aku melihat tatapan mata liarnya yang seakan menyambut canda nakalku.
“Ah.. Sedikit kok, enggak apa sekali-kali saya bayarin susu bayinya, siapa tahu dapat susu ibunya, ha-ha-ha..”, aku mulai bercanda yang sedikit menjurus.
“Ihh.. Mas Gery!” jerit Linda malu-malu. Namun aku melihat tatapan mata liarnya yang seakan menyambut canda nakalku.
Kami berjalan menuju mobilku,
setelah menaruh belanjaan ke dalam bagasi aku mengajaknya makan dulu. Dengan
malu-malu Linda mengiyakan ajakanku.
Kami kemudian makan di sebuah
restauran makanan laut di dekat kompleks. Aku sangat gembira karena semakin
lama kami semakin akrab dan Linda juga mulai berbaik hati memberikan kesempatan
padaku untuk “ngelaba”. Mulai dari posisi duduknya yang sedikit mengangkang
sehingga aku dengan mudah melihat kemulusan paha montoknya dan tatkala usahaku
untuk melihat lebih jauh ke dalam ia seakan memberiku kesempatan. Ketika aku
menunduk untuk mengambil garpu yang dengan sengaja aku jatuhkan, Linda semakin
membuka lebar kedua pahanya. Jantungku berdegup sangat kencang melihat
pemandangan indah di dalam rok Linda. Di antara dua paha montok yang putih dan
mulus itu aku melihat celana dalam Linda yang berwarna orange dan.. Brengsek,
transparan!
Dengan cahaya di bawah meja tentu
saja aku tak dapat dengan jelas melihat isi celana dalam orange itu, tapi itu
cukup membuatku gemetar dibakar birahi. Saking gemetarnya aku sampai terbentur
meja ketika hendak bangkit.
“Hi-hi-hi.. Hati-hati Mas..”,
celoteh Linda dengan nada menggoda.
Aku memandang wajah Linda yang
tersenyum nakal padaku, kuberanikan diri memegang tangannya dan ternyata Linda
menyambutnya.
“Hmm.. Maaf, saya cuma mau bilang
kalau Mbak Linda.. Seksi sekali”, dengan malu-malu akhirnya perkataan itu
keluar juga dari mulutku.
“Terima kasih, Mas Gery juga.. Hmm.. Gagah, lucu dan terutama, Mas Gery pria yang paling baik yang pernah saya kenal”.
“Terima kasih, Mas Gery juga.. Hmm.. Gagah, lucu dan terutama, Mas Gery pria yang paling baik yang pernah saya kenal”.
“O ya?”, aku tersanjung juga dengan
rayuannya, “Gara-gara saya traktir Mbak?”
“Bukan cuma itu, saya sering memperhatikan Mas di rumah, dan dari cerita Mbak Lia, Mas Gery sangat perhatian dan rajin membantu pekerjaan di rumah, wah.. Jarang lho Mas, ada pria dengan status sosial seperti Mas yang sudah mapan dan berpendidikan namun masih mau mengepel rumah”.
“Ha-ha-ha..” aku tertawa gembira, “Rupanya bukan cuma saya yang memperhatikan kamu, tapi juga sebaliknya”.
“Bukan cuma itu, saya sering memperhatikan Mas di rumah, dan dari cerita Mbak Lia, Mas Gery sangat perhatian dan rajin membantu pekerjaan di rumah, wah.. Jarang lho Mas, ada pria dengan status sosial seperti Mas yang sudah mapan dan berpendidikan namun masih mau mengepel rumah”.
“Ha-ha-ha..” aku tertawa gembira, “Rupanya bukan cuma saya yang memperhatikan kamu, tapi juga sebaliknya”.
“Jadi Mas Gery juga sering
memperhatikan saya?”
“Betul, saya paling senang melihat kamu membersihkan halaman rumah di pagi hari dan saat menjemur pakaian”.
“Eh.. Kenapa kok senang?”.
“Sebab saya mengagumi keindahan Mbak Linda, juga selera pakaian dalam Mbak”, aku berterus terang.
“Betul, saya paling senang melihat kamu membersihkan halaman rumah di pagi hari dan saat menjemur pakaian”.
“Eh.. Kenapa kok senang?”.
“Sebab saya mengagumi keindahan Mbak Linda, juga selera pakaian dalam Mbak”, aku berterus terang.
Pembicaraan ini semakin mempererat
kami berdua, seakan tak ada jarak lagi di antara kami. Akhirnya kami pulang
sekitar jam 8 malam. Dalam perjalanan pulang, bayi Mbak Linda tertidur sehingga
ketika sampai di rumah aku membantunya membawa barang belanjaan ke dalam
rumahnya.
Mbak Linda masuk ke kamar untuk
membaringkan bayinya, sementara aku menaruh barang belanjaan di dapur. Setelah
itu aku duduk di ruang tamu menunggu Linda muncul. Sekitar lima menit, Linda
muncul dari dalam kamar, ia ternyata sudah berganti pakaian. Kini wanita itu
mengenakan gaun tidur yang sangat seksi, warnanya putih transparan. Seluruh
lekuk tubuhnya yang montok hingga pakaian dalamnya terlihat jelas olehku.
Sinar lampu ruangan cukup menerangi
pandanganku untuk menjelajahi keindahan tubuh Linda di balik gaun malamnya yang
transparan itu. Buah dadanya terlihat bagaikan buah melon yang memenuhi bra
seksi yang berwarna orange transparan. Di balik bra itu kulihat samar-samar
puting susunya yang juga besar dan coklat kemerahan. Perutnya memang agak
sedikit berlemak dan turun, namun sama sekali tak mengurangi nilai keindahan
tubuhnya. Apalagi jika memandang bagian bawahnya yang montok.
Tak seperti di bawah meja sewaktu di
restoran tadi, kini aku dapat melihat dengan jelas celana dalam orange
transparan milik Linda. Sungguh indah dan merangsang, terutama warna hitam di
bagian tengahnya, membayangkannya saja aku sudah berkali-kali meneguk ludah.
“Hmm.. Tidak keberatan kan kalu saya
memakai baju tidur?”, tanya Linda memancing.
Sudah sangat jelas kalau wanita ini
ingin mengajakku selingkuh dan melewati malam bersamanya. Kini keputusan
seluruhnya berada di tanganku, apakah aku akan berani mengkhianati Lia dan
menikmati malam bersama tetanggaku yang bahenol ini.
Linda duduk di sampingku, tercium
semerbak aroma parfum dari tubuhnya membuat hatiku semakin bergetar. Keadaan
kini ternyata jauh di luar dugaanku. Kemarin-kemarin aku masih merasa bermimpi
jika bisa membelai dan meremas-remas tubuh Linda, namun kini wanita itu justru
yang menantangku.
“Mas Gery mau mandi dulu? Nanti saya
siapkan air hangat”, tanya Linda sambil menggenggam tanganku erat.
Dari sorotan matanya sangat terlihat
bahwa wanita ini benar-benar membutuhkan seorang laki-laki untuk memuaskan
kebutuhan biologisnya.
“Hmm.. Sebelum terlalu jauh, kita
harus membuat komitmen dulu Mbak”, kataku agak serius.
“Apa itu Mas?”
“Pertama, terus terang aku mengagumi Mbak Linda, baik fisik maupun pribadi, jadi sebagai laki-laki aku sangat tertarik pada Mbak”, kataku.
“Terima kasih, saya juga begitu pada Mas Gery”, Linda merebahkan kepalanya di pundakku.
“Kedua, kita sama-sama sudah menikah, jadi kita harus punya tanggung jawab untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kita, apa yang mungkin kita lakukan bersama-sama janganlah menjadi pemecah rumah tangga kita”.
“Apa itu Mas?”
“Pertama, terus terang aku mengagumi Mbak Linda, baik fisik maupun pribadi, jadi sebagai laki-laki aku sangat tertarik pada Mbak”, kataku.
“Terima kasih, saya juga begitu pada Mas Gery”, Linda merebahkan kepalanya di pundakku.
“Kedua, kita sama-sama sudah menikah, jadi kita harus punya tanggung jawab untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga kita, apa yang mungkin kita lakukan bersama-sama janganlah menjadi pemecah rumah tangga kita”.
“Setuju, saya sangat setuju Mas,
saya hanya ingin punya teman saat saya kesepian, kalau Mas Gery mau kapanpun
Mas bisa datang ke sini, selagi tidak ada suami saya. Tapi saya sekalipun tidak
akan meminta apapun dari Mas Gery, dan sebaliknya saya juga ingin Mas Gery
demikian pula, sehingga hubungan kita akan aman dan saling menguntungkan”.
“Hmm.. Kalau begitu tak ada masalah, saya mau telpon ke rumah, supaya pembantu saya tidak kebingungan”.
“Hmm.. Kalau begitu tak ada masalah, saya mau telpon ke rumah, supaya pembantu saya tidak kebingungan”.
“Kalau begitu, Mas Gery pulang saja
dulu, taruh mobil di garasi, kan lucu kalau Mas Gery bilang ada acara sehingga
tidak bisa pulang, sementara mobilnya ada di depan rumah saya”.
“Oh.. Iya, hampir saya lupa”.
“Oh.. Iya, hampir saya lupa”.
Aku segera keluar dan pulang dulu ke
rumah, menaruh mobil di garasi dan mandi. Setelah itu aku mau bilang pada
pembantuku kalau aku akan menginap di rumah temanku. Namun tidak jadi karena
pembantuku ternyata sudah tidur.
Aku segera datang kembali ke rumah
Linda. Wanita itu sudah menungguku di ruang tamu dengan secangkir teh hangat di
atas meja. Pahanya yang montok terpampang indah di atas sofa.
“Wah.. Ternyata mandi di rumah ya?
Padahal saya sudah siapkan air hangat”.
“Terima kasih, Mbak Linda baik sekali”.
“Terima kasih, Mbak Linda baik sekali”.
Wanita itu berjalan menutup pintu
rumah, dari belakang aku memandang kemontokan pantatnya yang besar dan padat.
Kebesaran pantat itu tak mampu dibendung oleh celana dalam orange itu, sehingga
memperlihatkan belahannya yang merangsang. Seperti tak sadar aku menghampiri
Linda, lalu dengan nakal kedua tanganku mencengkeram pantatnya, dan meremasnya.
“Uhh..”, Linda agak kaget dan
menggelinjang.
“Maaf”, kataku.
“Tidak apa-apa Mas, justru.. Enak”, kata Linda seraya tersenyum nakal memandangku. Senyum itu membuat bibir sensualnya seakan mengundangku untuk melumatnya.
“Crup..!”, aku segera menciumnya, Linda membalasnya dengan liar.
“Maaf”, kataku.
“Tidak apa-apa Mas, justru.. Enak”, kata Linda seraya tersenyum nakal memandangku. Senyum itu membuat bibir sensualnya seakan mengundangku untuk melumatnya.
“Crup..!”, aku segera menciumnya, Linda membalasnya dengan liar.
Aku tak tahu sudah berapa lama bibir
itu tak merasakan ciuman laki-laki, yang jelas ciuman Linda sangat panas dan
liar. Berkali-kali wanita itu nyaris menggigit bibirku, lidahnya yang basah
meliuk-liuk dalam rongga mulutku. Aku semakin bernafsu, tanganku menjalar di
sekujur tubuhnya, berhenti di kemontokan pantatnya dan kemudian meremas-remas
penuh birahi.
“Ohh.. Ergh..”, lenguh Linda di
sela-sela ciuman panasnya.
Dengan beberapa gerakan, Linda
meloloskan gaun tidurnya hingga terjatuh di lantai. Kini wanita itu hanya
mengenakan Bra dan celana dalam yang berwarna orange dan transparan itu. Aku terpaku
sejenak mengagumi keindahan pemandangan tubuh Linda.
“Wowww.. Kamu.. Benar-benar seksi
Mbak”, pujiku ,”Buah dada Mbak besar sekali”
“Hi-hi-hi.. Punya Lia kecil ya? Paling 34 A, iya kan? Nah coba tebak ukuran saya?”, tanyanya seraya memegang kedua buah melon di dadanya itu.
“36 B”, jawabku.
“Salah”
“36 C”.
“Hi-hi-hi.. Punya Lia kecil ya? Paling 34 A, iya kan? Nah coba tebak ukuran saya?”, tanyanya seraya memegang kedua buah melon di dadanya itu.
“36 B”, jawabku.
“Salah”
“36 C”.
“Masih salah, sudah lihat aja nih”,
Linda membuka pengait Bra-nya, sehingga kedua buah montok itu serasa hampir mau
jatuh. Ia membuka dan melempar bra orange itu kepadaku.
“Gila.. 36 D!”, kataku membaca ukuran yang tertera di bra itu.
“Boleh saya pegang Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“Jangan cuma dipegang dong Mas, remas.. Dan kulum nih.. Putingnya”, kata Linda dengan gaya nakal bagaikan pereks jalanan.
“Gila.. 36 D!”, kataku membaca ukuran yang tertera di bra itu.
“Boleh saya pegang Mbak?”, tanyaku basa-basi.
“Jangan cuma dipegang dong Mas, remas.. Dan kulum nih.. Putingnya”, kata Linda dengan gaya nakal bagaikan pereks jalanan.
Wanita itu menjatuhkan tubuh
indahnya di atas sofa, aku memburunya dan segera menikmati kemontokan buah
melonnya. Kuremas-remas dua buah dada montok itu, kemudian kuciumi dan terakhir
kukulum puting susunya yang sebesar ibu jari dengan sekali-kali memainkannya di
antara gigi-gigiku. Linda menggelinjang-gelinjang keenakan, napasnya semakin
terdengar resah, berkali-kali ia mengeluarkan kata-kata jorok yang justru
membuatku semakin bernafsu.
“Ngentot, enak banget Mas..”
jeritnya, “Ayo Mas.. Saya sudah kepingin penetrasi nih!”.
Aku yang juga sudah sangat bernafsu
segera menjawab keinginan Linda. Dengan bantuan Linda aku menelanjangi diriku
sehingga tak tersisa satupun busana di tubuhku. Linda sangat gembira melihat
ukuran penisku yang lumayan panjang dan besar itu.
“Ohh.. Besar juga ya..” jeritnya.
Ia benar-benar bertingkah bagaikan
perek murahan, namun justru itu yang kusuka. Wanita itu segera membuka celana
dalam orange sebagai kain terakhir di tubuhnya. Kulihat daerah bukit
kemaluannya yang ditumbuhi rambut-rambut liar, dengan segaris bibir membelah
ditengah-tengahnya. Bibir yang merah dan basah, sangat basah. Ingin rasanya aku
menikmati keindahan bibir kenikmatan Linda, namun ketika aku ingin
melaksanakannya ia menampikku.
“Sudah, nanti saja, masih ada babak
selanjutnya, sekarang ayo kita selesaikan babak pertama”.
Linda duduk mengangkang di atas
sofa. Kedua kakinya dibuka lebar-lebar mempersilakan kepadaku untuk melakukan
penetrasi kenikmatan sesungguhnya. Aku pun segera menyiapkan senjataku,
mengarahkan ujung penisku tepat di depan liang vagina Linda dan perlahan tapi
pasti menekannya masuk.
Sedikit-demi sedikit penisku
tenggelam dalam kehangatan liang Linda yang basah dan nikmat. Ketika hampir
seluruh batang penisku yang berukuran 19 cm itu memasuki vagina, aku
mencabutnya kembali. Kemudian kembali memasukkannya perlahan.
“Enghh.. Gila kamu Mas, kalau begini
sebentar saja saya puas”, jerit Linda keenakan.
“Tak apa Mbak, silahkan orgasme, kan masih ada babak selanjutnya”, tantangku. Kini kutambah rangsangan dengan meremas dan memilin puting susunya yang besar.
“Ohh.. Ohh.. Benar-benar enak Mas”, Linda memejamkan matanya.
Pada penetrasi kelima, Linda menjerit, “Sudah Mas, jangan tarik lagi, saya mau.. Mau.. Oh..!”
“Tak apa Mbak, silahkan orgasme, kan masih ada babak selanjutnya”, tantangku. Kini kutambah rangsangan dengan meremas dan memilin puting susunya yang besar.
“Ohh.. Ohh.. Benar-benar enak Mas”, Linda memejamkan matanya.
Pada penetrasi kelima, Linda menjerit, “Sudah Mas, jangan tarik lagi, saya mau.. Mau.. Oh..!”
Dinding vagina Linda melejat-lejat
seakan memijit batang penisku dalam kenikmatan birahi yang sedang direguknya.
“Oh.. Saya sudah sekali Mas”,
katanya sambil menarik nafas.
“Mas mau puas dulu atau mau lanjut babak kedua?”, tanya Linda.
“Terserah Mbak”, kataku. Aku sih pasrah saja.
“Sini, saya emut saja dulu”.
“Hmm.. Boleh juga, Lia belum pernah oral dengan saya”, aku mencabut penisku dari dalam vagina Linda yang basah dan menyodorkannya ke Linda.
“Mas mau puas dulu atau mau lanjut babak kedua?”, tanya Linda.
“Terserah Mbak”, kataku. Aku sih pasrah saja.
“Sini, saya emut saja dulu”.
“Hmm.. Boleh juga, Lia belum pernah oral dengan saya”, aku mencabut penisku dari dalam vagina Linda yang basah dan menyodorkannya ke Linda.
Wanita itu menjilati ujung penisku
dengan lidahnya seakan membersihkannya dari cairan vaginanya sendiri, kemudian
dengan sangat bernafsu ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Bibir seksi
Linda terlihat menyedot-nyedot penisku seakan menyedot spermaku untuk keluar.
Ia kemudian mengocok penisku dalam mulutnya hingga birahiku mencapai puncaknya.
“Oh.. Saya mau keluar nih, gimana?”,
aku bingung apakah aku harus mengeluarkan spermaku ke dalam mulutnya atau
mencabutnya.
Namun Linda hanya mengangguk dan
terus mengocoknya pertanda ia tak keberatan jika aku memuntahkan spermaku ke
dalam mulutnya.
Akhirnya aku mencapai orgasme dan memuntahkan semua spermaku ke dalam mulut Linda. Wanita itu tanpa segan-segan menelan seluruh spermaku. Sungguh lihai wanita ini memuaskan birahi laki-laki!
Akhirnya aku mencapai orgasme dan memuntahkan semua spermaku ke dalam mulut Linda. Wanita itu tanpa segan-segan menelan seluruh spermaku. Sungguh lihai wanita ini memuaskan birahi laki-laki!
Kami duduk sebentar dan minum air
dingin, kemudian Linda mengangkangkan kakinya kembali.
“Nah.. Sekarang babak kedua Mas,
kalau mau jilat dulu silahkan, tapi utamakan yang ini ya”, Linda menunjuk ke
arah klitorisnya yang agak besar.
“Oke Mbak, saya juga sudah biasa kok”, seruku.
“Oke Mbak, saya juga sudah biasa kok”, seruku.
Sejurus kemudian aku sudah berada di
hadapan bibir kemaluan Linda yang baru saja aku nikmati. Sebelum kujilat terlebih
dahulu kubelai bibir itu dari ujung bawah hingga klitoris. Kusingkap
rambut-rambut kemaluannya yang menjalari bibir itu.
“Sudah gondrong nih Mbak”, seruku.
“Oh iya, habis mau dicukur percuma juga, enggak ada yang lihat dan jilat”, jawabnya nakal, “Besok pagi saya cukur deh, tapi janji malamnya Mas Gery datang lagi ya..”.
“Oke.. Pokoknya setiap ada kesempatan saya siap menemani Mbak Linda”.
“Oh iya, habis mau dicukur percuma juga, enggak ada yang lihat dan jilat”, jawabnya nakal, “Besok pagi saya cukur deh, tapi janji malamnya Mas Gery datang lagi ya..”.
“Oke.. Pokoknya setiap ada kesempatan saya siap menemani Mbak Linda”.
Aku kemudian asyik menjilati dan
menciumi labium mayora dan minora Linda. Cairan vagina Linda sudah mulai
mengalir kembali pertanda ia sudah terangsang kembali. Desahan Linda juga
memperkuat tanda bahwa Linda menikmati permainan oralku. Dengan nakal aku
memasukkan jari telunjuk dan tengahku ke dalam vaginanya dan kemudian
mengobok-obok liang becek itu.
“Yes.. Asyik banget.. Say sudah siap
babak kedua Mas”, seru Linda.
Aku sendiri sudah terangsang sejak
melihat keindahan selangkangan Linda, jadi penisku sudah siap menunaikan tugas
keduanya. Linda menungging di atas sofa.
“Sekarang doggy-style ya Mas..”
Aku sih iya saja, maklum.. Sama
enaknya..
Sejurus kemudian kami sudah terlibat
permainan babak kedua yang tak kalah seru dan panas dengan babak pertama, hanya
kali ini aku memuntahkan sperma di dalam vaginanya.
Malam masih begitu panjang. Kami
masih menikmati dua permainan lagi sebelum kelelahan dan mengantuk. Linda
begitu bahagia, dan aku sendiri merasa puas dan lega. Mimpiku untuk menikmati
tubuh montok tetanggaku terlaksana sudah. Bahkan kini setiap waktu jika Lia
dinas ke luar kota maka Linda secara resmi menggantikan posisi Lia sebagai
isteriku. Asyik juga. Namun sebagai imbalannya aku mencarikan dan menggaji
pembantu rumah tangga di rumah Linda. Betapa bahagianya Linda dengan bantuanku
itu, ia semakin sayang padaku dan berjanji akan melayaniku jauh lebih memuaskan
dibanding pelayanan kepada suaminya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar